Senin, 08 April 2013


Pencegahan Penyakit Gondok Pada Masyarakat di Wilayah Aran-aran,Kabupaten Malang.


Oleh:
Fitri Ning Welas
201110300511081





D3-Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) atau bisa disebut penyakit gondok. Pada saat ini di Indonesia diperkirakan sekitar 42 juta penduduk tinggal didaerah yang lingkungannya miskin yodium, dari jumlah penduduk ini 10 juta menderita thyroid,750.000-900.000 menderita kretin endemic dan 3,5 juta menderita GAKY lainnya. Semua penduduk ini tersebar di sekitar 190 Kabupaten dan 26 propinsi (Depkes RI, 2000)
Prevalensi GAKY  di Jatim cukup tinggi, dari 37 Kabupaten atau Kota yang ada di Jatim semuanya termasuk daerah endemic ringan. GAKY merupakan masalah gizi utama disamping masalah gizi lainya seperti Kekurangan Energi Protein, Kekurangan Vitamin A dan anemia.Akibat dari kekurangan yodium secara terus-menerus dalam waktu yang lama dapat menimbulkan penyakit gondok. Hasil suvei pemetaan gondok 1998 yang telah di publikasikan WHO tahun 2000 melaporkan bahwa 18,8% penduduk hidup di daerah endemic ringan, 4,2% penduduk hidup di daerah endemic sedang dan 4,5% penduduk hidup di daerah endemic berat. Diperkirakan sekitar 18,2 juta peduduk hidup di wilayah endemic sedang dan berat, dan 39,2 juta penduduk hidup di wilayah endemic ringan. Menurut jumlah kabupaten di Indonesia, maka diklasifikasikan 40,2% kabupaten termasuk endemic ringan, 13,5% kabupaten endemic sedang dan 5,1% kabupaten endemic berat (www.gizi.net.2004).
Atas dasar data prevalensipenderita GAKY hasil survey Nasional Thyroid Endemik 1980-1982, diperkirakan di Indonesia kini telah terjadi defisit tingkat kecerdasan sebesar 140 juta IQ-points. Defisit tersebut diyakini sebagai penghambat kelancaran progam Wajib Belajar Sembilan Tahun.Lebih jauh telah di identiikasi bahwa para penderita GAKY memiliki produktivitas kerja yang rendah, sehingga dapat mengurangi penghasilan 15%. (Depkes RI,2000)
GAKY pada anak sekolah akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan, gangguan perkembangan dan berakibat kecerdasan rendah, anak seperti ini biasanya sulit menerima pelajaran, tidak naik kelas dan putus sekolah.
Anak sekolah adalah generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan bangsa dimasa yang akan datang. Dinasib mereka bangsa dan negara terletak. Bangsa indonesia akan menjadi masyarakat yang besar dan kuat hanya apabila manusianya mempunyai kualitas tinggi yang mampu menguasai ilmu dan teknologi. (Depkes RI, 2000)
Di wilayah Aran-aran merupakan wilayah dataran tinggi yang berada di kecamatan Wajak Kabupaten Malang.Secara geografis, endemic GAKY biasanya sering terjadi pada wilayah dataran tinggi. Hal ini disebabkan oleh karena kadar yodium yang terdapat pada tanah dan airnya cenderung rendah. Hilangnya yodium dalam tanah berakibat pada menurunya yodium yang diserap tanaman, sehingga tanaman dan hewan yang dimakan penduduknya tidak cukup mengandung yodium.
Pada anak usia sekolah yang mengalami kekurangan yodium, cenderung akan mengalami gangguan pada fungsi mentalnya. Hal ini dikarenakan otak gagal mengalami proses perkembangan yaitu dalam tahap menyelinisasi sehingga proses neurotransmiter otak juga mengalami gangguan yang berakibat menurunkan daya ingat dan kecerdasan anak.
Pada penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Rudi Susanto pada anak sekolah yang tinggal didaerah yang kekurangan yodium menunjukan hasil IQ kurang dibandingkan dengan kelompok umur yang sama yang berasal dari daerah yang berkecukupan akan yodium. Dari sini dapat disimpulkan kekurangan yodium dapat mengakibatkan keterampilan kognitif rendah. Semua penelitian yang dikerjakan didaerah kekurangan yodium  memperkuat adanya bukti kekurangan yodium dapat menyebabkan kelainan otak. (Suara Merdeka, 5 November 2001)
Untuk menanggulangi masalah GAKY, Pemerintah melaksanakan progam jangka pendek yaitu pemberian garam yodium atau kapsul yodium kepada penduduk  terutama yang tinggal di daerah (desa) endemik berat dan sedang. Untuk sasaran utamanya adalah ibu hamil, ibu nifas, WUS, dan anak SD. Pemberian garam yodium atau kapsul yodium merupakan progam pemerintah yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1992/1993.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin mengetahui pencegahan penyakit gondok pada masyarakat di wilayah Aran-aran Kabupaten Malang.



B.     Rumusan Masalah
Penulis merumuskan bagaimana pencegahan penyakit gondok yang terjadi di wilayah Aran-aran Kabupaten Malang.

C.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana pencegahan penyakit gondok pada masyarakat di wilayah Aran-aran Kabupaten Malang.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Mahasiswa
Memberikan pembelajaran dan penerapan ilmu kesehatan masyarakat yang telah didapat serta menambah pengetahuan, wawasan dan mahasiswa dapat menentukan cara mencegah penyakit gondok yang ada dimasyarakat.
2.      Bagi Jurusan Kesehatan
Memberkan masukan bagi jurusan kesehatan untuk melekukan pembaruan kurikulum pendidikan agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
3.      Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada di masyarakat, sehingga di harapkan masyarakat mampu melakukan upaya pencegahan terhadap penyakit gondok.

E.     Relevansi Penelitian
Masalah GAKY terutama disebabkan oleh lingkungan yang kurang mengandung yodium. Adapun kegiatan penanggulangannya yang dilaksanakan oleh pemerintah sampai saat ini, seperti : mensosialisaikan penggunaan garam beryodium bagi masyarakat, iodisasi air minum yang dalam tahap pengembangan dan terbatas didaerah tertentu, dan pemberian kapsul yodium terutama pada daerah yang endemik berat dan sedang (Dinkes Jatim, 2001)






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    GangguanAkibatKekuranganYodium (GAKY)
Masalah GAKY merupakanmasalahkesehatanmasyarakat yang cukupluas di dunia. Di Indonesia, GAKY dewasainimenjadimasalahnasional, karenaberkaitandenganpenurunankualitassumberdayamanusia, yang akhirnyaakanmenghambattujuanpembangunannasional (DjokoMoeljanto, 2002).
Padakekuranganyodium, konsentrasi hormone tiroidmenurundan hormone TSH meningkat agar kelenjartiroidmampumenyeraplebihbanyakyodium.Bilakekuranganberlanjut, selkelenjartiroidmembesardalamusahameningkatkanpengambilanyodiumolehkelenjarmakapembesaran yang Nampakdinamakangondoksederhana.Apabilaterdapatsecarameluas di suatudaerahdinamakangondokendemik.Suatudaerahdikatakandaerah endemic gondokapabilalebihdari 5%penduduknyamenderitagondok.Gondokdapatmenampakkandiridalambentukgejala yang sangatluas, yaitudalambentukretinisme (cebol) di suatusisidanperbesarankelenjartiroidpadasisi lain. Gejalakekuranganyodiumadalahmalasdanlamban, kelenjartiroidmembesar, padaibuhamildapatmengganggupertumbuhandanperkembanganjanin, dandalamkeadaanberatbayilahirdalamkeadaancacat mental yang permanensertahambatanpertumbuhan yang dikenalsebagaikretinisme.Seoranganak yang menderitakretinismemempunyaibentuktubuh abnormal dan IQ sekitar 20.Kekuranganyodiumpadaanak-anakmenyebabkankemampuanbelajar yang rendah (Almatsier, 2002).
Penyakit gondok disebabkan oleh membesarnya kelenjar tiroid pada leher.Hubungan antara penyakit ini dengan kurangnya konsumsi yodium telah diketahui lebih dari 130 tahun yang lalu. Beberapa abab sebelumnya, penyakit gondok ditangani dengan mengkonsumsikan pasien benda yang kaya akan yodium seperti karang laut yang dibakar. Yodium berinteraksi dengan protein yang disebut dengan thyroglobulin, dan cincin aromatik dari protein ter-iodinisasi.Dua dari molekul yang ter-iodinisasi tersebut berinteraksi, membentuk suatu unit thyroxine yang berikatan dengan protein.Unit aromatik ini kemudian lepas dan menghasilkan suatu hormon tiroid thyroxine yang sangat kuat.
Manusia maupun hewan mamamalia muda memerlukan hormon tiroid untuk pertumbuhan dan perkembangan yang normal.Kekurangan dari hormon tiroid pada saat kandungan berakibat penurunan mental dan daya pikir anak tersebut.Kekurangan hormon tiroid pada tingkat rendah pada orang dewasa mengakibatkan hypotiroidism, atau sering kita sebut dengan istilah gondok, dengan gejala-gejala seperti malas bergerak, kegemukan, dan kulit yang mengering.
Yodium yang kita dapatkan dari mengkonsumsi makanan dan minuman berada dalam bentuk ion yodium, dan besarnya bergantung dari kadar yodium dalam tanah. Tanah dengan kadar yodium rendah mengakibatkan banyak pasien menderita penyakit gondok dan dapat ditanggulangi dengan mengkomsumsi garam yang ber-iodinisasi NaI (100mg iyodium per gram garam).
GangguanAkibatKekuranganYodium (GAKY) adalahsekumpulangejala yang ditimbulkankarenatubuhkekuranganyodiumdalamjangkawaktu yang lama.Kekuranganunsureyodiumterutama di pengaruhiolehfactorlingkungan yang keadaantanahdanairnyamiskinunsureyodium,akibatnyapenduduk yang tinggaldidaerahtersebutakanselalukekuranganyodium.(Dinkes RI,2001)
Akibatdari GAKY ternyatajauhlebihluasdarisekedarterjadipembesarankelenjar thyroid yang sangatmengkawatirkanadalahakibat negative padasusunansyarafpusat yang akanberpengaruhpadakecerdasandanperkembangan social masyarakatpadaumumnya.(DinkesPropinsi Jatim,2003).
Terjadinya kekurangan yodium terutama akibat dari rendahnya kadar yodium dalam tanah sehingga air an tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah itu juga rendah kadar yodiumnya. Disamping itu, beberapa jenis bahan makanan mengandung zat yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelanjar thyroid dan disebut zat goiterogen.Zat tersebut ditemukan dalam kol, kubis, kacang kedelai, kacang tanah dan obat-obatan tertentu.
Zat goiterogen tersebut dapat menghalangi pengambilan yodium oleh kelenjar thyroid sehingga konsentrasi yodium dalam kelenjar thyroid sangat rendah. (Sediaoetama, 2006)

B.     Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, antara lain:
1.        Kekurangan Yodium pada Janin
Kekurangan yodium pada janin akibat ibunya kekurangan yodium. Keadaan ini akan menyebabkan besarnya angka kejadian lahir mati, abortus, dan cacat bawaan, yang semuanya dapat dikurangi dengan pemberian yodium. Akibat lain yang lebih berat pada janin yang kekurangan yodium adalah kretin endemik. Kretin endemik ada dua tipe, yang banyak di dapatkan adalah tipe nervosa, ditandai dengan retardasi mental, dan bisu tuli.Sebaliknya yang terjadi pada tipe hipothyroidisme yang ditandai dengan kekurangan hormon thyroid dan kerdil.
2.        Kekurangan Yodium pada Saat Bayi Baru Lahir
Yang sangat penting diketahui pada saat ini, adalah fungsi thyroid pada bayi baru lahir berhubungan erat dengan keadaan otak pada saat bayi tersebut lahir. Bila kekurangan yodium tidak dikoreksi maka hipothyroidisme kan menetap sejak bayi sampai masa anak. Ini berakibat pada retardasi perkembangan fisik dan mental, serta risiko kelainan mental yang sangat tinggi.
3.        Kekurangan Yodium pada Masa Anak
Pada anak sekolah yang tinggal di daerah kekurangan yodium menunjukkan hasil sekolah dan IQ kurang dibandingkan dengan kelompok umur yang sama yang berasal dari daerah yang berkecukupan yodium. Dari sini dapat disimpulkan yodium mengakibatkan keterampilan kognitif rendah.
Keadaan ini disebut sebagai hipothyroidismeotak, yang akan menyebabkan bodoh dan lesu, hal ini merupakan tanda hipothyroidisme pada anak dan dewasa. Keadaan lesu ini dapat kembali normal bila diberikan koreksi yodium, namun lain halnya bila keadaan yang terjadi di otak.
4.        Kekurangan Yodium pada Dewasa
Pada orang dewasa, dapat terjadi thyroid dengan segala komplikasinya, yang sering terjadi adalah hipothyroidisme, dan terjadi pembesaran pada kelenjar thyroid yang berfungsi autonom.

C.    Tujuan dan Sasaran Penanggulangan GAKY
1.        Tujuan Umum
Mengeliminasi kretin baru melalui dan pemantapan program penanggulangan GAKY, menjelang tahun 2010 yang mencakup upaya pencegahan dan pengendalian.
2.        Tujuan Khusus
a.       Prevalensi thyroid (TGR) menurun dikalangan masyarakat menjadi 18% pada akhir pelita VI
b.      Pulihnya hypothyroid pada orang dewasa / kretin
c.       Mencegah keterlambatan perkembangan mental maupun fisik yang berkaitan dengan defisiensi yodium
d.      Menurunkan angka drop out, hasil sekolah membaik
e.       Menurunkan angka kematian perinatal, angka kematian bayi dan abortus
f.       Meningkatkan kecukupan kadar yodium ASI

D.    Pembesaran Kelenjar Thyroid
1.      Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Thyroid
Kelenjar thyroid terdiri atas 2 lobus yang terletak disebelah kanan dari trachea diikat bersama oleh jaringan thyroid dan melintasi tracheadisebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat didalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring. Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar thyroid ini dapat memproduksi hormon tiroksin.Adapun fungsi dari hormon tiroksin adalah mengatur pertukaran zat / metabolisme dalam tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani.Struktur kelenjar thyroid terdiri dari sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epithelium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan secret cairan yang bersifat lekat yaitu : Koloidac thyroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormon tiroksin. Secret ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah baik langsung maupun melalui saluran limfe. (Gybson, 2003)
Fungsi kelenjar thyroid terdiri dari :
a.       Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi
b.      Mengatur penggunaan oksidasi
c.       Mengatur pengeluaran karbondioksida
d.      Metabolic dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
e.       Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental
Hipofungsi dapat menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit miksidema. Kretinismus berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik dan pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksidema proses metabolik mundur terdapat kecenderungan untuk bertambah berat badan, geraknya lamban, kulit menjadi tebal, rambut rontok, dan denyut nadi menjadi pelan.
Hiperfungsi menyebabkan penyakit hyperthyroid dimana semua gejalanya merupakan kebalikan dari miksedema, yaitu : kecepatan metabolik yang meningkat, suhu tubuh rendah, berat badan turun dan denyut nadi naik. Jika sudah dalam keadaan parah biasanya juga bisa menyebabkan mata menonjol keluar.

2.      Patofisiologi
Definisi yodium akan menguras cadangan yodium serta mengurangi produksi T4. Penurunan kadar T4 dalam darah memicu sekresi TSH yang kemudian, meningkatkan kegiatan kelenjar thyroid, untuk selanjutnya menyokong terjadinya hyperplasia thyroid(pembesaran thyroid). (Sediaoetama, 2006)
Yodium merupakan mikro mineral yang esensial dan merupakan inti dari thyroxine yaitu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar thyroid yang mengatur berbagai proses penting dalam tubuh antara lain pertumbuhan fisik mental pada anak-anak serta mengatur penggunaan energi dalam tubuh. Didalam alat pencernaan, yodium diserat dalam bahan makanan dan diangkat dalam kelenjar thyroid, sekitar 25% dari seluruh yodium yang ada dalam tubuh terdapat kelenjar ini bergabung dengan hormon thyroxine yang kemudian oleh aliran darah dikeluarkan oleh kelenjar dan dipergunakan oleh sel-sel tubuh. Ekskresi yodium sebagian di kelenjar ludah, lambung dan sebagian besar diekskresikan oleh ginjal. Apabila yodium yang dikeluarkan tidak diganti oleh yodium yang dari bahan makanan maka tubuh akan menderita kekurangan yodium. Sebagai kompensasi kekurangan yodium maka terjadilah pembesaran kelenjar thyroid yang dimaksud untuk mengadakan adaptasi agar tubuh dapat memanfaatkan yodium secara lebih efisien hingga dapat memproduksi thyroxinedalam jumlah yang mencukupi.
Menurut Guyton. AC. (1987) Mekanisme terjadinya thyroid adalah kekurangan yodium, yang kemudian akan menghambat pembentukan hormon thyroxineoleh kelenajr thyroid dan sebagai akibatnya tidak ada hormon yang menghambat pembentukan TSH oleh hipofise anterior, hal ini memugkinkan hipofise mensekresi TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel thyroid mensekresi triglobulin dalam jumlah besar ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin besar.
Banyak teori untuk menerangkan penyebab terjadinya penyakit thyroid. Akan tetapi  ada tiga teori yang sampai saat ini bertahan yaitu teori tentang kekurangan yodium dalam bahan makanan sehingga menyebabkan kurangnya masukan yodium ke dalam tubuh, teori tentang kualitas air minum yang buruk serta teori tentang adanya zat-zat goitrogenik pada makanan tertentu. Namun demikian penyebab utama dari penyakit thyroid adalah kekurangan yodium dari makanan dan minuman.
Penderita GAKY pada umunya banyak ditemukan di daerah pegunungan dimana makanan yang dikonsumsi sangat tergantung dari produksi makanan dari tanaman setempat yang tumbuh pada kondisi kadar yodium yang rendah di tanah. Secara umum diyakini bahwa faktor defisiensi yodium yang berat dan berlangsung secara terus-menerus adalah penyebab utama terjadinya GAKY, terutama pada daerah-daerah pegunungan dan dataran tinggi karena miskinnya kandungan yodium dalam tanah dan air di wilayah tersebut.
Sehubungan dengan itu, maka masalah GAKY dimasyarakat masih sering dihubungkan dengan rendahnya konsumsi yodium dari makanan dan minuman pada masyarakat di daerah dataran tinggi atau pegunungan. (Pudjiadi, 2005)
Zat geoitrogenik adalah zat yang menghambat penyerapan yodium dalam tubuh.Zat-zat ini terdapat dalam makanan tertentu seperti singkong, tumbuhan jenis kol (brassicae), kedelai dan daun selada air.Singkong termasuk juga bahan makanan yang mempunyai sikap goitrogenik yang terkandung dalam sianida. (Sediaoetama, 2006)
Agar kelenjar thyroiddapat mempertahankan bentuk dan fungsinya yang normal diperlukan yodium dari makanan dan minuman sehari-hari, dalam jumlah yang diperlukan. Kalau jumlah yang diperlukan itu tidak dapat dipenuhi secara terus menerus, kelenjar thyroid akan mengalami pembesaran. Ini biasanya terjadi kalau disuatu daerah tanah tidak atau sedikit sekali mengandung yodium.
Akibatnya air minuman atau tanaman yang tumbuh di daerah tersebut sangat sedikit atau tidak mengandung yodium. Maka penduduk yang tinggal di daerah tersebut selalu mengalami kekurangan yodium, dan akan menderita penyakit thyroid atau goiter. Kalau disuatu daerah lebih dari 10% penduduk yang menderita thyroid maka dapat disebut sebagai penderita thyroid endemik. (Dinkes Prop, Jatim, 2003)

3.      Etiologi
Penyebab pembesaran kelenjar thyroid dapat bermacam-macam seperti
a.      Kekurangan Yodium
Kekurangan yodium merupakan penyebab utama thyroid endemik dan terdapat didaerah-daerah dimana tanahnya tidak mengandung banyak yodium, hingga produk yang dihasilkan juga miskin akan yodium. Kekurangan yodium menyebabkan hyperplasia thyroid sebagai adaptasi terhadap kekurangan tersebut.
b.      Makanan sehari-hari mengandung banyak zat goitrogen
Zat goitrogen seperti yang ditemukan pada kubis dapat menyebabkan pembesaran pada kelenjar thyroid. Beberapa bahan makanan lain juga mengandung zat goitrogen, misalnya : kacang tanah, kacang kedelai, singkong, bawang merah, bawang putih. Floor dan kalsium menghambat penggunaan yodium oleh thyroid hingga merupakan goitrogen juga.
c.       Air minum kotor
Dalam air minum yang kotor terdapat zat goitrogen yang dapat dihilangkan apabila dimasak.
d.      Faktor Keturunan
Faktor demikian dapat mengurangi kapasitas fungsi thyroid atau gangguan readsorbsiyodium oleh tubulas ginjal. (Pudjiati, 2005)

E.     Usaha Pencegahan dan Penanggulangan GAKY
Cara penanggulangan yang paling mudah untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan yodium bagi penduduk adalah melalui penambahan unsur yodium dari luar (supplementasi). Suplementasi yodium di Indonesia selama ini dilaksanakan melalui dua cara yaitu:
1.      Upaya jangka pendek yang dilaksanakan melalui distribusi kapsul yodiol bagi Wanita Usia Subur (WUS) termasuk wanita hamil dan menyusui di daerah endemik berat dan sedang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memotong rantai resiko GAKY bagi penduduk yang tinggal di daerah beresiko tinggi, guna mengantisipasi lahirnya anak-anak yang menderita GAKY.
2.      Suplementasi yodium jangka panjang dilaksanakan melalui program fortifikasi yodium (penambahan yodium) pada makanan yang umum dikonsumsi oleh semua orang secara rutin setiap hari (www.gizi.net, 2003).

F.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Gondok
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gondok antara lain meliputi :
1.      Tempat dan lama penyimpanan garam berpengaruh terhadap kandungan iodine yang terdapat dalam kandungan garam (Sulchan, 2001).
2.      Tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap terhadap garam beryodium dan ketersediaan garam beryodium di tingakat pasar mempunyai hubungan dengan ketersediaan garam beryodium pada tingkat rumah tangga (Gunanti, 2001).
3.      Lama pemasakan berpengaruh terhadap kestabilan garam beryodium dalam sediaan makanan (Cahyadi, 2001).
4.      Bedasarkan konsep UNICEF tahun 1998, penyebab langsung GAKY adalah defisiensi zat gizi yodium. Ketidakcukupan asupan yodium disebabkan oleh kandungan yodium dalam bahan makanan yang rendah dan konsumsi garam beryodium yang rendah.Masih banyak masyarakat yang kurang mengetahui manfaat dari garam beryodium sehingga mengakibatkan rendahnya konsumsi garam beryodium.Hal yang mendasar dari penyebab GAKY adalah kandungan yodium dalam tanah yang rendah. Semua tumbuhan yang berasal dari daerah endemis GAKY akan mengandung yodium yang rendah sehingga sangat diperlukan adanya garam beryodium atau bahan makanan dari luar daerah yang non endemis (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007).

Pada tingkat rumah tangga, cara terbaik dalam penggunaan garam beryodium agar yodiumnya tidak rusak atau hilang adalah dengan menaburkan garam ketika makanan sudah mulai dingin, karena yodium akan menguap jika terkena panas hingga 1000 C sehingga cara terbaik adalah dengan menyediakan garam di atas meja. Dengan demikian, yodium yang terkandung dalam garam tidak akan hilang (Sutanto, 2004).

G.    KonsepYodium
1.      DefinisiYodium
Yodiumadalahsalahsatu trance elemen yang esensial. Disebutdemikiankarenasalahsatu trance elemen yang esensial.Disebutdemikiankarenaterdapatpadatubuh manusiadalamjumlah yang sangatsedikityaitu :sekitar 15-20 mg danmanusiamembutuhkanyodiumuntukpertumbuhandanperkembangannyahanya 100-150 mg perhari (0,1-0,5mg).Yodiumdiambildariyodida yang dikonsumsi,dalamwaktu 3 harisekitar 25-30% sudahdiproses.(Murray,2003)
Gangguan yang dapatditimbulkanolehdefisiensiyodiumdapatterjadipadasemuatingkatperkembanganmanusia,mulaidarifetus,neonacus,anak,remaja,sertadewasa.Yodium yang masukdalamtubuhkita berasal dari yodium yang terkandungdalammakanan ,air yang kitaminum,iniberartibahwakandungantanahatasyodiuminisangatpentingbuatpencegahanpenyakitgondok.UntukmenilaihalinibiasanyadiperiksakadarYodiumpadalahanataudalamsumberair.Kadaryodiumlahanakanmempengaruhikadaryodiummakanan yang berasaldaritanahtersebut.Ditanah yang jenistanamannyarenggang (tanahkapur),yodiummudahsekalitercucidanterbawaolehalirandanarusair.InilahsebabnyaditanahberkapurbanyakdefisiensiYodium.Air yang membawayodiumtaditerlarutkelaut,sehinggakadar air lautakanyodiumcukuptinggi.(DinkesPropinsi Jatim,2001)
Kekurangan yodium memang sedikit berbeda masalahnya dengan kekurangan gizi lainnya.Permasalahan pertama yang timbul biasanya lingkungan yang miskin akanyodium ,baik lahan tersebut kekurangan unsur yodium atau karena gangguan lain yang berkompetensi dengannya yaitu gastrogenik.(www.idd_Indonesia.net)

2.      Fungsi Yodium
Yodium merupakan komponen struktur dari hormon thyroksin yang dihasilkan oleh kelenjar thyroidyang banyak berpengaruh terhadap banyak fungsi tubuh sebagai berikut:
a.        Metabolisme umum
Menggiatkan proses metabolisme secara umum dan menyeluruh terutama proses oksidatif.
b.       Sistem Cardiovaskuler
Meningkatkan fungsi jantung dan aliran darah.
c.        Sistem Pencernaan
Meningkatkan kerja saluran pencernaan,mensekresi kelenjar pencernaan dan meningkatkan kerja perestal
d.      Sistem muskulo skeletal
Menggiatkan pertumbuhan dan ossifikasi tulang.
e.       Sistem saraf
Merangsang prosescerebrasi ,mempercepat proses integrasi bagian bagian otak yaitu proses mielinisasi,sehingga berguna untuk meningkatkan fungsi kerja otak yang meliputi daya ingat ,kecerdasan pertumbuhan dan perkembangan metal. (Sediaoetama,2006)

3.      Tata laksana distribusi garam beryodium
a.       Lokasi sasaran
Lokasi yang menjadi prioritas garam beryodium adalah seluruh desa di kecamatan wajak yang tergolong endemik berat dan sedang .Untuk menentukan tingkat endemisitas GAKY dilakukan pemetaan prevalensi TGR.Dalam rangka pengukuran prevalensi thyroid endemik,maka diperlukan rumus perhitungan TGR.
Prevalensi Total Goiter Rate = Grade (IA+IB+II+III)X 100% /jumlah yang diperiksa.
Prevalensi TGR < 5%     = N0n endemik
Prevalensi TGR 5-10%   = Endemik awal                                          
Prevalensi TGR 10-20% = Endemik ringan
Prevalensi TGR 20-30% = Endemik sedang
Prevalensi TGR 30-40% = Endemik berat

b.      Penduduk sasaran
Anak SD kelas (1-6),WUS,BUMIL

c.       Dosis pemberian garam beryodium.garam beryodium 200mg diberikan kepada kelompok sasaran dengan dosis sebagai berikut :
§  WUS : 2 Kapsul/tahun
§  BUMIL :1 Kapsul/tahun
§  Anak SD (1-6) :1 Kapsul/tahun
(Pemantauan garam beryodium,Depkes Ri,2001)Pemberian sesuai Dosis yang dianjurkan dengan cara di telan.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik, yaitu penelitian yang dilakukan untuk menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah kasus control (case control). Penelitian case control adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana factor risiko dipelajari dengan menggunakan metode retrospective.

B.     Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Wilayah Aran aran,Kabupaten Malang.Alasan digunakannya lokasi ini karena di desa Aran aran memiliki jumlah penderita GAKY yang cukup banyak di Kabupaten Malang.

C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Menurut Machfoeds (2005) populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti.Populasi yang diteliti adalah seluruh keluarga yang ada di Desa Aran-aran.Populasi yang diteliti sebesar 671 kepala keluarga.
2.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang merupakan wakil dari populasi (Machfoedz, 2005).
a.       Sampel kasus
Sampel kasus adalah jumlah kasus, yaitu seluruh penduduk yang menderita gondok sebesar 14 responden.
b.      Sampel kontrol
Sampel diambil secara purposive sampling dengan jumlah yang sama dengan kasus atau dengan perbandingan 1:2 sehingga total yang diambil adalah 28 kasus kontrol.
Pertimbangan diambilnya kontrol adalah sebagai berikut:
·         Mempunyai umur yang hamper sama dengan kelompok kasus.
·         Lokasi kontrol yaitu tetangga paling dekat dengan rumah kelompok kasus.

D.    Sumber Data
1.      Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap penduduk Desa Aran aran yang menderita gondok yaitu untuk memperoleh data yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gondok.
2.      Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari Puskesmas dan Kantor Balai Desa Aran aran.

E.     Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan teknik wawancara.Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dalam hal ini peneliti mendapatkan keterangan secara lisan dari responden dan berhadapan langsung dengan responden.Jenis wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara terpimpir karena dalam pengumpulan data digunakan kuasioner sebagai dasar dalam melakukan melakukan wawancara (Notoatmodjo, 2002).
Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara langsung kepada penderita gondok di Desa Aran-aran dengan menggunakan kuasioner untuk mengetahui keberadaan garam beryodium di lingkungan Desa Aran-aran yang dapat diukur melalui uji iodine tes.Sedangkan untuk pengumpulan data sekunder dilakukan oleh peneliti melalui Puskesmas dan Kantor Balai Desa Aran-aran.

F.     Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data.Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasioner.Kuasioner merupakan daftar pertanyan yang telah disusun dengan baik dimana interviewer tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda tertentu. Sebelum digunakan dalam penelitian, kuasioner akan diuji terlebih dahulu baik validitas maupun reliabilitasnya. Kondisi wilayah yang digunakan untuk uji coba kuasioner sebaiknya memiliki cirri-ciri yang hamper sama dengan tempat penelitian yang akan dilaksanakan (Notoatmodjo, 2002).
Uji coba kuasioner dalam penelitian ini dilaksanakan pada masyarkat yang bertempat tinggal di Desa Aran-aran. Alasan pemilihan tempat ini karena memiliki karakteristik yang sama dengn lokasi penelitian yaitu masih berada di wilayah kecamatan Wajak, selain itu keberadaan garam beryodium di Desa Aran-aran juga masih rendah.

a.       Uji validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2002). Validitas suatu instrumen penelitian dapat diketahui dengan cara menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut:
Keputusan uji validitas apabila r hitung ≥ r tabel, maka Ho ditolak, artinya pertanyaan valid dan apabila r hitung < r tabel, maka Ho diterima atau variabel pertanyaan tidak valid. Korelasi antara skor item dengan skor total untuk mengetahui validitas instrumen penelitian dapat dilihat dari hasil interpretasi SPSS menggunakan reliability analysis yaitu pada corrected item-total correlation. Interpretasinya dengan cara membandingkan r hitung pada corrected item-total correlation (hasil koreksi skor item dengan skor total item) dengan r tabel, dimana jika r hitung ≥ r tabel, maka pertanyaan valid dan jika r hitung < r tabel, maka item pertanyaan tidak valid sehingga harus dihapus atau diganti dengan pertanyaan lain (Sugiyono, 2002).

b.      Uji reliabilitas.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat peraga dapat dipercaya atau dapat diandalkan dan tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama (Notoatmodjo, 2002). Pengukuran reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan model alpha. Pertanyaan akan diuji reliabilitas apabila sudah valid semua. Semua pertanyaan dinyatakan reliabel apabila nilai r alpha > r tabel (Hastono, 2001).



G.    Metode Analisis
1.      Pengolahan data
Data yang diperoleh melalui wawancara dengan kuasioner telah diolah dengan menggunakan perangkat lunak komputer program SPSS 10 for windows melalui beberapa tahapan yaitu editing, coding, entry data dan tabulating.
a.       Editing
Editing meliputi kegiatan koreksi dan seleksi data yang telah dikumpulkan.Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data yang benar, sehingga diharapkan dalam analisis tidak terjadi kesalahan kesimpulan.
b.      Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode pada data dengan tujuan meringkas data dan memudahkan analisis.
c.       Entry Data
Entry data adalah kegiatan pemindahan data kedalam computer untuk diolah menggunakan program SPSS versi 10 for windows.
d.      Tabulating
Tabulating merupakan kegiatan meringkas jawaban dari kuesioner menjadi satu tabel induk yang memuat semua jawaban responden. Jawaban responden akan dikumpulkan dalam bentuk kode-kode yang disepakati untuk memudahkan pengolahan data selanjutnya.

2.      Analisis data
Analisis data dilakukan setelah data terkumpul yaitu dengan menggunakan:
a.       Analisis deskriptif
Analisis deskriptif untuk menunjukkan distribusi frekuensi masing-masing variable yang diteliti.Analisis ini disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasan.
b.      Analisis data bivariate
Analisis bivariate merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002).Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi-square. Menurut Siegel (1994), uji chi-square digunakan bila data penelitian berupa frekuensi-frekuensi dalam bentuk kategorik baik nominal atau ordinal. Uji ini digunakan untuk menentukan signifikansi dua variabel atau lebih.
c.       Analisis multivariate
Proses analitis multivariate dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa variabel bebas dengan satu variabel terikat pada waktu yang bersamaan dengan menggunakan uji regresi logistik. Uji regresi logistik merupakan salah satu pendekatan model matematik yang digunakan untuk menganalisis hubungan satu atau beberapa variabel independen dengan sebuah variabel dependen kategorik yang bersifat dikotomi (Hastono, 2001).





DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia, Jakarta.
Anonim. 2003. Dua Miliar Penduduk Dunia Berisiko GAKY. http://www.feedingminds.org. Diakses tanggal 31 Maret 2009.
Anonim. 2004. Rencana Aksi Nasional: Kesinambungan Program Penanggulangan GAKY. http://www.gizi.net. Diakses tanggal 31 Maret 2009.
Cahyadi, W. 2001.Pengaruh Lama Pemasakan Terhadap Kestabilan Garam Beryodium Dalam Sediaan Makanan. http://www.idd-indonesia.net. Diakses tanggal 1 April 2009.
Dardjito, E. 2005.Bahan Ajar Gizi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Raja Grafindo, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten Sehat. Depkes RI, Jakarta.
Djokomoeljanto.2002. Aspek Sosio-Kultural Pada Program Penaggulangan GAKY. http://www.idd-indonesia.net. Diakses tanggal 1 April 2009.
Hastono. 2001. Modul Analisis Data. FKM UI-Press, Jakarta.
Machfoedz. 2005. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan. Penerbit Fitramaya, Jakarta
Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta, Jakarta
Siswono. 2001. GAKY Penyakit Penyebab Retardasi Mental. http://www.gizi.net. Diakses tanggal 31 Maret 2009.
Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian dan Aplikasinya dengan SPSS 10.0 for windows. Alfabeta, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar