Sabtu, 27 April 2013


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
                        Kala I persalinan ketika telah tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. Kala I persalinan selesai ketika serviks sudah membuka lengkap (sekitar 10 cm) sehingga memungkinkan kepala janin lewat. Oleh karena itu, kala I persalinan disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks.
                        Proses pembukaan serviks sebagai akibai his dibagi di bagi dalam 2 fase yaitu fase laten  dan fase aktif. Fase laten berlangsung selama 8 jam dan pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3cm. sedangkan fase aktif dibagi dalam 3 fase lagi yaitu fase akselerasi, fase dilatasi maksimal, dan fase deselerasi.
                        Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi demikian, akan tetapi fase laten, fase aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih pendek.
                        Kala I ini pasti akan dilalui oleh setiap ibu hamil yang akan mengalami persalinan , sehingga kita sebagai bidan harus mengetahui perubahan fisiologis dan psikologis yang kemugkinan besar akan dialami oleh seorang ibu yang akan melahirkan, selain itu pula bidan harus menentukan manejemen asuhan apa yang pantas diberikan kepada ibu yang akan melahirkan ketika sedang dalam masa kala I .
1.2       Tujuan
1.      Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada persalinan kala I
2.      Mampu mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada kala I
3.      Mampu memberikan pengetahuan psikologis yang terjadi pada kala I







BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1       Definisi
                        Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir.
                        Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir.
                        Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
                        Kala 1 adalah proses dimulainya dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10cm). (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatus,2009)
2.2       Perubahan Fisiologis Kala 1
a.       Uterus
      Saat mulai persalinan, jaringan dari miometrioum berkontraksi dan berelaksasi seperti otot pada umumnya. Pada saat otot retraksi, ia tidak akan kembali ke ukuran semula tapi berubah ke ukuran yang lebih pendek secara progresif. Dengan peruahan bentuk otot uterus pada proses kontraksi, relaksasi dan retraksi, maka kavum uterus lama kelamaan menjadi semakin mengecil. Proses ini merupakan salah satu factor yang menyebabkan janin turun ke pelviks.Kontraksi uterus mulai darifundus (Fundal dominan).Kontraksi uterus berakhir dengan masa yang terpanjang dan sangat kuat pada fundus.
b.      Serviks
      Sebelum onset persalinan, serviks mempersiapkan kelahiran dengan berubah menjadi lembut. Saat persalinan mendekat, serviks mulai menipis dan membuka.
Gambaran prosesnya adalah sebagai berikut:
                                    ·            Penipisan serviks (effacement)
Berhubungan dengan kemajuan pemendekan dan penipisan serviks. Seiring dengan bertambah efektifnya kontraksi, serviks mengalami perubahan bentuk menjadi  lebi tipis.  Hal ini disebabkan oleh kontraksi uterus yang bersifat fundal dominan sehingga serviks seolah-olah tertarik ke atas dan lama kelamaan menjadi tipis. Batas antara segmen atas dan bawah rahim  (recreation ring) mengikuti arah tarikan ke atas, sehingga seolah-olah batas ini letaknya bergeser ke atas. Panjangnya serviks pada akhir kehamilan normal berubah-ubah (dari beberapa mm-3cm). Dengan dimulainya persalinan, panjang serviks berkurang secara teratur sampai menjadi sangat pendek (hanya beberapa mm). Serviks yang sangat tipis ini disebut dengan “menipis penuh”.
                                    ·            Dilatasi
Proses ini merupakan kelanjutan dari effacement. Setelah serviks dalam kondisi menipisnya penuh, maka tahap berikutnya adalah pembukaan. Serviks membuka disebabkan daya tarikan otot uterus ke atas secara terus menerus saat uterus berkontraksi.
Dilatasi dan diameter serviks dapat diketahui melalui pemeriksaan intravagina. Berdasarkan diameter pembukaan serviks, proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
1.   Fase laten
     Berlangsung selama kurang lebih 8 jam
2.   Fase aktif
                                                            ·            Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 jam kini menjadi 4 cm.
                                                            ·            Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
                                                            ·            Fase deselerasi. Pembukaan melambat kembali, dalam 2 jam pembukaan dari 9 jam menjadi lengkap (10 cm). Pembukaan lengkap berarti bibi serviks dalam keadaan tak teraba dan diameter lubang serviks adalah 10 cm.
                 Fase diatas dijumpai pada primigravida. Pada multigravida tahapannya lebih cepat untuk setiap fasenya. Pada primigravida berlangsung selama 13 jam, sedangkan pada multigravida sekitar 7 jam.
                 Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudia ostium eksternum membuka. Namun pada multigravida, ostium uteri inernum dan eksternum serta penipisan dan pendarahan serviks terjadi dalam waktu yang sama.
Lendir Darah
Perdarahan dan dilatasi serviks melonggarkan membrane dari daerah internal dengan sedikit perdarahan dan menyebabkan lendir bebas dari sumbaan atau operculum. Terbebasnya lendir dari sumbatan ini menyebabkan terbentuknya tonjolan selaput ketuban yang teraba saat dilakukan pemeriksaan intravagina. Pengeluaran ini disebut show atau Bloody show yang mengindikasikan telah dimulainya proses persalinan.
c.       Ketuban
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hamper atau sudah lengkap, Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan udah lengkap.Bila ketuban telah pecah sebelum pembukaan ke-5 disebut ketuban pecah dini (KPD).
d.      Tekanan Darah
·        Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi disertai peningkatan sistol rata-rata 15-20 mmHg dan diastole rata-rata 5-10 mmHg.
·        Pada waktu-waktu tertentu di antara kontraaksi, tekanan darah kembali ke tingkat sebelum persalinan.
·        Dengan mengubah posisi pasien dari telentang ke posisi miring kiri , perubahan tekanan darah selama persalinan dapat dihindari.
·        Nyeri, rasa takut, dan kekhawatiran dapat semakin meningkatkan tekanan darah.
·        Apabila pasien merasa sangat takut pertimbangkan bahwa hal itu dapat meningkatkan tekanan darah.
e.       Metabolisme
·        Selama persalinan, metabolism karbohidrat baik aerob maupun anaerob meningkat dengan kecepatan tetap. Peningatan terutama karena kecemasan.
·        Peningkatan aktivitas metabolic terlihat dari peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, curah jantung, dan cairan yang hilang.

f.        Suhu Tubuh
·     Suhu tubuh meningkat selama persalinan, tertinggi selama dan segera setelah melahirkan.
·        Peningkatan suhu tubuh yang tidak lebih dari 0,5-10C dianggap normal, nilai ersebut mencerminkan nilai metabolisme selama persalinan.
·        Peningkatan suhu adalah normal dalam persalinan, namun bila persalinan berlangsung lebih lama peningkatan suhu tubuh dapat mengindikasikan dehidrasi, sehingga parameter lebih baik dicek, begitu juga pada kasusu ketuban pecah dini dan infeksi.
g.       Detak jantung
·        Perubahan yang mencolok selama kontraksi disertai peningkatan selama fase peningkatan, penurunan sampai titik puncak samapi frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi di antara kontraksi, dan peningkatan selama fase penurunan hingga mencapai frekuensi lazim di antara kontraksi.
·        Penurunan yang mencolok selama puncak kontraksi uterus tidak terjadi jika wanita berada pada posisi miring, bukan telentang.
·        Frekuensi denyut nadi di antara kontraksi sedikit lebih tinggi disbanding selama periode menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan metabolism selama persalinan.
·        Sedikit peningkatan denyut nadi dianggap normal , maka diperlukan pengecekan parameter lain untuk menyingkirkan proses infeksi.
h.       Pernapasan
·        Sedikit peningkatan frekuensi pernapasan dianggap normal selama persalinan.
·        Hyperventilasi yang memanjang adalah temuan abnormal yang adapat menyebabkan alkalosis.
i.         Perubahan Renal (Berkaitan dengan ginjal)
·        Poliuri, dapat diakibatkan karena peningkatan curah jantung
·        Kandung kemih harus sering dievaluasi (setiap dua jam ) untuk mengetahui adanya distensi , juga harus dikosongkan untuk mencegah obstruksi persalinan akibat kandung kemih yang penuh, yang akan mencegah penurunan bagian presentasi janin, dan trauma pada kandung kemih akibat penekanan yang lama, yang akan menyebabkan hipotonia kandung kemih dan retensi urine selama periode pascapersalinan.
·        Sedikit proteinuria (+1), lebih sering terjadi pada primipara, pasien anemia, atau yang persalinan lama.
·        Proteinuria yang nilanya +2 atau lebih data yang abnormal. Indikasi pre-eklamsia.
j.        Gastrointestinal
·        Motilitas dan absorbsi lambung terhadap makanan padat jauh berkurang. Apabila kondisi ini diperburuk
Oleh penurunan lebih lanjut sekresi asam lambung selama persalinan, maka saluran cerna bekerja lebih lambat sehingga waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama. Cairan tidak dipengaruhi dan waktu yang dibutuhkan oleh lambung tetap seperti biasa. Makanan yang dimakan selama pperiode menjelang persalinan atau fase prodormal atau fase laten persalinan cenderung akan tetap di dalam lambung selama persalinan.
·        Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan selama masa transisi. Krena itu pasien tidak dinajurkan untuk makan dengan porsi besar atau minum berlebihan, tapi makan dan minum ketika keinginan timbul ini untuk mempertankan energy dan hidrasi.
·        Mual dan muntah umum terjadi pada fase transisi menandakan akhir fase pertama persalinan. Pemberian obat oral tidak efektif selama persalinan. Perubahan saluran cerna kemungkinan timbul sebagai respon terhadap salah satu kombinasi antara factor-faktor seperti kontraksi uterus, nyeri, rasa takut, khawatir, obat atau komplikasi.
k.      Hematologi
·        Hemoglobin meningkat rata-rata 1,2 mg% selama persalinan dan kembali ke kadar sebelum persalinan pada hari pertama pascapersalinan jika tidak ada kehilangan darah yang abnormal.
·        Jangan terburu-buru yakin bahwa seorang pasien tidak anemia.
·        Selama persalinan, waktu koagulasindarah berkurang dan terdapat peningkatan fibrinogen plasma lebih lanjut. Perubahan ini menurunkan resiko perdarahan pascapersalinan pada pasien normal.
·        Hitung sel darah putih secara progresif meningkat selama kala I sebesar kurang lebih 5 ribu/uI (rata=15 ribu/uI saat pembukaan lengkap). Jika peningktan lebih besar indikasi infeksi.
·        Gula darah menurun selama proses persalinan, dan menurun drastic pada persalinan yang lama dan sulit. Hal ini karena terjadi peningkatan aktivitas  uterus dan rangka.

2.3       Perubahan Psikologis :

a.       Kala I Fase Laten
Pada awal persalinan, kadang pasien belum cukup yakin bahwa ia akan benar-benar melahirkan meskipun tanda persalinan sudah cukup jelas. Pada tahap ini support sangatlah penting.
Seiring dengan kemajuan proses persalinan dan intensitas rasa sakit akibat his yang meningkat, pasien akan mulai merasakan putus asa dan lelah. Ia akan selalu menanyakan apakah ini sduah hamper berakhir ? Pasien akan senang sekali bila dilakukan pemeriksaan dalam (vaginal touch) dan berharap bahwa hasil pemeriksaan mengindikasikan proses persalinan akan segera berhasil.
Beberapa pasien akhirnya dapat mencapai suatu Coping mechanism terhadap rasa sakit akibat his.
b.      Kala Fase Aktif
Memasuki kala I fase aktif, sebagian besar pasien akan mengalami penurunan samina dan sudah tidak mampu lagi untuk turun dari tempat tidur, terutama pada primipara. Pada fase ini pasien sangat tidak suka jika diajak bicara atau diberi nasehat mengenai apa yang seharusnya ia lakukan. Ia lebih focus untuk berjuang mengendalikan rasa sakit dengan keinginan untuk meneran. Jika tidak bisa mengendalikan rasa sakit dengan pengaturan nafas yang benar, maka ia akan mulai menangis dan berteriak-teriak dan mungkin akan melupakan kemarahannya pada suami atau orang terdekatnya. Perhatian terhadap orang terdekatnya akan sangat berpengaruh.
Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah membiarkan pasien mengatasi masalahnya sendiri namun tidak meninggalkannya.
c.       Kala I Akhir
        Menjelang kala II pasien sudah dapat mengtasi kemabli rasa sakit akibat is dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Pada fase ini ia akan kembali bersemangat untuk mendapatkan persalinannya. Ia akan mengikuti intruksi bidan, dan pada fase ini dukungan mental sangatlah penting.

2.4       Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
Riwayat pasien
a.       Usia
b.      Jumlah gravid atau para
c.       Kontraksi: waktu pertama kontraksi, frekuensi, dan durasi dari awal sampai saat ini.
d.      Intensitas kontraksi pada saat berbaring dibandingkan saat berjalan berkeliling
e.       Gambaran lokasi ketidaknyaman ketika kontraksi
f.        Gerakan janin
g.       Lama persalinan sebelumnya
h.       Komplikasi sebelum persalinan (anterpartum), saat persalinan, dan pascapersalinan pada pengalaman sebelumnya.
i.         Metode persalinan sebelumnya
j.        Ukuran (berat badan) terbesar dan terkecil bayi sebelumnya.
k.      Taksiran partus dan usia kehamilan saat ini.
l.         Munculnya bloody snow
m.     Ada atau tidaknya perdarahan pervagina
n.       Status ketuban
o.      Masalah Prenatal
p.      Kapan terakhir makan dan minum
q.      Kapan terakhir BAB dan BAK

Pemeriksaan Fisik
a.       Tanda vital
b.      Berat badan
c.       Denyut jantung janin
d.      Pola kontraksi
e.       Gerakan janin
f.        Penancapan (engagement)
g.       Taksiran berat janin (TBJ) dan tinggi fundus uterus (TFU)
h.       Letak, presentasi, posisi dan variasi janin
i.         Jaringan parut pada abdomen
j.        Edema ekstremitas
k.      Refleks dan tonus otot
l.         Pemeriksaan pelviks (vaginal touché)
-Penipisan dan pembukaan serviks
-Posisi serviks
-Adanya bloody snow
-Molding dan caput seccedaneum
-Letak, posisi, dan variasi janin
-Status ketuban
-Orifisium vagina dan badan perineum

Pemeriksaan Dalam (Vaginal Touch)
                 Pemeriksaan dalam adalah pemeriksaan genetalia bagian dalam mulai dari vagina sampai serviks menggunakan dua jari, yang salah satu takniknya adalah dengan menggunakan skala ukuran jari ( lebar satu jari berarti satu cm) untuk menentukan diameter dilatasi serviks ( pembukaan serviks atau porsio) pemeriksaan dalam dilakukan untuk menilai:
1.      Vagina ( terutama dindingnya) apakah ada bagian yang menyempit.
2.      Keadaan serta pembukaan serviks
3.      Kapasitas panggul
4.      Ada atau tidaknya tumor pada jalan lahir
5.      Pecah tidaknya selaput ketuban
6.      Presentasi janin
7.      Turunnya kepala dalam panggul
8.      Penilaiaan besarnya kepala terhadap panggul
9.      Apakah proses persalinan telah dimulai serta kemajuan persalinan

Pemeriksaan Janin
Perbedaan mengenai waktu pemeriksaan DJJ antara persalinan normal dengan persalinan resiko tinggi.
Persalinan Normal
PersalinandenganresikoTinggi
Setiap 1 jam padafaselaten
Setiap 15 menitpadafaselaten
Setiap 30 menitpadafaseaktif
Setiap 5 menitpadafaseaktif

Fokus pengkajian pada fase laten:
a.       Integritas ego: senang atau cemas dalam menghadapi persalinan.
b.      Nyeri : kontraksi uterus teratur, ada peningkatan frekuensi, durasi, dan intensitas his. Kontraksi uterus bersifat ringan, tiap 5 sampai 10 menit, dengan durasi 10 sampai 30 detik.
c.       Keamanan: denyut jantung janin paling baik terdengar di sekitar umbilikus (bergantung pada posisi janin)
d.      Seksualitas : selaput ketuban mungkin tidak pecah. Pembukaan serviks dari 0-4 cm, janin mungkin pada O untuk primigravida sampai +2 cm untuk multigravida.
Fokus pengkajian pada fase Aktif:
a.       Aktivitas : kelelahan
b.      Integritas ego : ketakutan, terhanyut pada proses persalinan
c.       Nyeri : kontraksi sedang tiap 2-5 menit selama 30-45 detik
d.      Keamanan: denyut jantung janin terdeteksi di bawah pusat
e.       Seksualitas: dilatasi serviks 4-8 cm, perdarahan jumlahnya sedang, janin turun 1-2 di bawah tulang iskial.
Fokus Pengkajian pada Fase Deselerasi/ fase kala I akhir:
a.       Sirkulasi : tekanan darah meningkat 5-10 mmHg di normal klien
b.      Integritas ego : perilakunya peka, dapat mengalami kesulitan mempertahankan control diri, dan perlu pengingat tentang pernapasan.
c.       Eliminasi : dorongan untuk defekasi
d.      Makanan/cairan : dapat terjadi muntah
e.       Nyeri/ketidaknyamanan : kontraksi uterus kuat terjadi setiap 2 sampai 3 menit, lamanya 45-60 detik, sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman yang hebat pada derah abdomen/sacral, dapat terjadi tremor kaki, dan sangat gelisah karena nyeri atau takut.
f.        Keamanan : diaforetik, DJJ terdengar pubis, DJJ dapat menunjukkan deselarasi lambat (sirkulasi uterus terganggu) atau deselerasi awal (kompresi kepala).
g.       Seksualitas : dilatasi serviks dari 8-10 cm, penurunan janin dari +2 sampai +4 cm, tampilan darah bisa banyak

2.5       Diagnosa
Fase laten:
·        Resiko cemas tinggi
·        Kurang pengetahuan tentang kemjuan persalinan dan ketersediaan pilihan yang berhubungan dengan kurang mengingat, kesalahan interpretasi informasi
·        Resiko kekurangan volume cairan
·        Resiko tinggi terhadap koping individu yang tidak efektif
·        Resiko tinggi terhadap cedera janin
Fase Aktif:
·        Nyeri akut
·        Perubahan pola eliminasi
·        Resiko tinggi Ansietas
·        Resiko tinggi cedera maternal
·        Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas terhadap janin
Fase deselerasi
·        Nyeri akut
·        Resiko tinggi penurunan curah jantung
·        Resiko tinggi kekurangan volume cairan
·        Keletihan
·        Resiko tinggi koping indvidutidak efektif

2.6       Intervensi

No
Diagnosa
Intervensi
Rasional
FaseLaten
1
Resikotinggicemas
Tujuan :
Setelahdilakukantindakandalam 1/2x24 jam resikocemasdapatdihindari.
1.      Beridukunganselamaintrapartumsecarakontinusesuaikebutuhan
2.      Berikaninformasitentangperubahanpsikologisdanperubahanfisiologisdalamperalihansesuaikebutuhansertaorientasukanklienpadalingkungan, staf, danprosedur-prosedur yang ada.
3.      Kajitingkatpenyebabkecemasan, kesiapanmelahirkansertalatarbelakangbudayadan orang terdekat.
4.      Pantautekanandarahdannadi
5.      Pantaupolakontraksi uterus danlaporkanbilaterjadidisfungsipersalinan.
6.      Anjurkanklienuntukmengungkapkanperasaan, rasa takut, danmasalahnya.
7.      Demonstrasikanmetoderelaksasidalampersalinandanberikankenyamanan.
8.      Berikesempatanuntukmembicarakanhal-hal yang berkaitandengannamabayi, rasa takutselamahamil, danperkiraanpersalinan.
9.      Anjurkanuntukberaktivitas , misalnyajalan-jalan, bacabuku
10.  Siapkandan bantu untukpulangdarirumahsakit

1.      Kontiunitasperawatandapatmenurunkanstres
2.      Pendidikansertainformasitentangkeadaanlingkungandapatmengurangistresdankecemasansehinggaakanmeningkatkankemajuanpersalinan.
3.      Kecemasanakanmemperberatpresepsinyerimemengaruhipenggunaanteknikkoping, danmenstimulasipelepasanaldosteron yang dapatmeningkatkanresponnatriumdan air.
4.      Stersakanmengaktifkansistemadenokortikalhipofisishipotalamik yang meningkatkanresistensiresorbsinatriumdalam air danmeningkatkaneksresikalium. Kehialangankaliumdapatmemperberatpenurunanaktivitasmiometriumsertaresorpsinatriumdan air akanmempereratperkembangantoksemia.
5.      Polakontraksihipertonikdapatterjadibilastresmenetapdanmemperpanjangpelepasankatekolamin.
6.      Stres rasa takutdancemasmempunyaiefekpada proses persalinan, yaitumemperlamafase I danketidakseimbanganepinafrinedanneopinefrinedapatmeningkatkandisfungsipolapersalinan.
7.      Menurunkan stressor yang dapatmemperberatansietasdanmemberikanstrategikoping.
8.      Sebagaipengalihandanmembantumelewatimasapersalinan yang panjang.
9.      Mengalihkanperhatiandaripersalinan
10.  Awalfaselatendantidakadatandakemajuanpersalinan, kenyamananlingkunganrumahdapatmengurangistres.
FaseAktif
2
Perubahanpolaeliminasi
1.      Palpasi di atassimfisis pubis
2.      Catatdanbandingkaninput dan output, catatjumlahwarnadankonsentrasi, sertaberatjenis.
3.      Anjurkanberkemihtiap 1-2 jam
4.      Aturposisitegak, alirkan air darikran, ataukucurkan air hangat di atas perineum.
5.      Ukursuhu, nadi,dan turgor kulit.
6.      Kateterisasisesuaiindikasi.
1.      Deteksikepenuhan urine dalamkandungkemih.
2.      Output kira-kiraharussamadengan input. Penurunan output bisaterjadidehidrasi, hemoragi, danhipertensi. Peningkatan output menunjukkanadanyaretensicairanberlebihansebelumpersalnan.
3.      Tekanankandungkemiholehpresentasijaninmenganggupengosongansecaratuntas.
4.      Memudahkanberkemih
5.      Memantaudrajaddehidrasi
6.      Kandungkemihterlaludistensidapatmenyebabkanatoni, menghalangiturunnyajanin, danmenimbulkan trauma karenapresentasijanin.
FaseDeselerasi

Keletihan
1.      Kajiderajatkeletihan
2.      Sediakanlingkunganredup
3.      Informasikankemajuanpersalinandanberikanpenguatan.
4.      Berikantindakankeamanan
5.      Anjurkanklienuntukmenutupmata, meluruskan kaki,  danrelaksasi di antarakontraksi.
6.      Pantauadanyaketon di dalam urine (ketonuria)
7.      Berikan analgesic sesuaianjurandokterbilakelahirantidakterjadidalamsatu jam
1.      Keletihandapatmenggangukemampuanfisikfisikdanpsikologisdalammenghadapi proses persalinan.
2.      Membantumeningkatkanistirahatdanmenurunkan stressor
3.      Mengetahuikemajuanpersalinandapatmembantumempertahankanupaya yang dilakukan
4.      Meningkatkanrelaksasidanmengautkankoping
5.      Posisi yang nyamandapatmempermudahrelaksasiotot.
6.      Ketonuriamenandakanadanyaasidosis metabolic, sehinggadapatmenururnkanaktivitas uterus dankeletihanmiometrium yang menyebabkanwaktupartusmenjadi lama
7.      Membantumengatasikontraksidanmemudahkanrelaksasi. Analgesikdapatmenyebabkandepresijanin.



BAB III
KESIMPULAN
            Kala satu persalinan didefinisikan sebagai permulaan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif dan diakhiri dengan pembukaan lengkap (10cm). hal ini dikenal sebagai tahap pembukaan. Ada sejumlah tanda dan gejala peringatan yang akan meningkatkan kesiagaan anda bahwa seorang wanita sedang mendekati waktu bersalin. Wanita tersebut akan mengalami berbagai kondisi berikut, mungkin semua atau malah tidak sama sekali. Perubahan – perubahan fisiologis yang terjadi pada uterus dan jalan lahir antara lain keadaan segmen atas dan segmen bawah pada persalinan, kontraksi otot rahim , perubahan bentuk rahim , faal ligamentum rotondum ,perubahan pada serviks, pendataran dari serviks ,bloody show, pembukaan dari serviks,  perubahan dari vagina dan dasar panggul . selain terjadi pada uterus dan jalan lahir , terjadi juga perubahan fisiologis maternal pada persalinan.
            Berbagai perubahan psikologi dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan tuntutan pada wanita dan bagaimana ia mengatasi tuntutannya terhadap dirinya yang muncul dari persalinan dan lingkungan tempat ia bersalin. Kondisi psikologis keseluruhan wanita yang sedang menjalani persalinan sangat bervariasi , tergantung pada persiapan dan bimbingan antisipasi uang ia terima selama persiapan menghadapi persalinan, dukungan yang diterima wanita dari pasangannya atau orang terdekatannya.

















DAFTAR PUSTAKA

Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan: Persalinan dan Kelahiran. Cetakan I.
Penerjemah: H.Y. Kuncara. Editor edisis bahasa Indonesia Monica Ester. Jakarta: EGC
Garerry Matthew, M. & Govan,A.D.T. 1974. Obstetric Illustrated. Scond Edition.london dan            New York: Churchill Livingstone
Henderson C., Jones K. 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
Pusdiknakes. 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Fisiologis Bagi Dosen           Diploma III Kebidanan. Buku 3 Asuhan Kebidanan Intra Partum. Jakarta: Pusdiknakes.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar